Ini adalah blogku yang pertama... ^v^ jadi, mohon dimaklumi jika isinya aneh.. yah, pasti ada yang pertama,kan dalam setiap sesuatu itu... dan kira kira apakah nantinya aku akan meneruskan ini? entahlah... yang jelas aku mencobanya... lalu, semoga apa yang aku lakukan ini akan berguna untukku nantinya... amien,,
My Best Friend ^^
walaupun aku rasanya bingung mau menulis apa, tapi tetap aja jariku bergerak dengan tiba tiba. rasanya ajaib.
mungkin kali ini aku akan menceritakan tentang sahabatku.
di dunia ini, selain keluargaku, sahabatku adalah orang pertama yang sangat berharga.
sahabatku selalu ada di samping ku ketika aku merasa senang dan melayang.
sahabatku juga selalu ada untukku 24 jam ketika aku merasa sedih.
bukannya orangtua ku tidak seperti itu juga, hanya saja yang aku bahas sekarang adalah sahabatku.
mungkin kami pernah bertengkar, namun pada akhirnya kami akrab kembali seperti semula.
mereka adalah orang orang yang tulus kepadaku.
orang orang yang perduli dan khawatir padaku.
aku sangat bahagia bisa bertemu dengan mereka.
mereka mengerti aku.
apa yang aku sukai, apa yang aku tidak sukai, apa yang aku benci, siapa orang yang dekat denganku, masalah apa yang sedang aku alami saat itu.
aku selalu berbagi dengan mereka tentang hal hal itu.
baik hal kecil, ataupun yang besar.
sangat menyenangkan waktu yang aku lewatkan bersama mereka.
ketika kami bersenang senang bersama.
tertawa bersama, menggila, bernyanyi, berteater.
ketika sedih.
menangis, menyesali kebodohan, marah, kecewa, menghawatirkan sesuatu.
terimakasih untuk sahabat sahabatku tercinta yang selama ini selalu bersamaku.
I Love You, friends... ^_^
sharing ^-^
tidaklah juga yang kita bayangkan dan terka adalah benar
semua bisa jadi sangat menyakitkan dan kita merasa tidak bisa menerimanya
hingga itu membuat kita merasa sangat marah, kecewa, dan sedih
mungkin juga dalam fikiran kita terucap "kenapa semua ini terjadi? kenapa harus begini? aku tidak percaya ini terjadi! ini tidak mungkin! jahat!" atau yang sejenis dengan itu
hati kita juga terasa sesak dan berat
tidak jarang juga akan membawa air mata turun dari asalnya
mungkin walaupun kita sudah berkali kali mengatakan pada diri sendiri "semua akan baik baik saja, percayalah"
atau berkali kali menarik nafas panjang dan mencoba melupakannya juga berfikir positif
namun tetap saja kita merasa perasaan kita masih terasa buruk
hingga membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan kita dan yang paling parah menjauhi kita
semua itu akan menjadi wajar jika tidak berlarut larut dan "lebay"
bukannya aku belum pernah merasakan hal yang seperti itu
justru karena aku pernah, makannya aku bisa berkata seperti ini
"semua akan indah pada waktunya. jika kamu merasa bahwa ada suatu hal yang sangat buruk menimpamu saat itu, sebenarnya kamu hanya akan merasa buruk saat itu saja, karena kamu tidak tahu hal indah apa yang tersembunyi dibaliknya. terbang dan lihatlah dari atas. maka kamu akan melihat secara keseluruhan dari hal yang sedang kamu alami. tenang dan berfikir positif. kamu tidak akan merasakan hal buruk yang tidak bisa kamu atasi. kamu tidaklah sendiri dalam menghadapi suatu hal buruk itu. pasti akan ada tangan tangan yang merangkulmu dan mengulur ke arahmu untuk melindungi dan membantumu untuk bangkit. suatu hal yang hilang pasti ada gantinya. mungkin bukan dalam waktu yang dekat, tapi pasti ada. mungkin tidak akan sama, tapi pasti lebih baik. KEEP MOVING FORWARD!!!"
hanyutan angin
bersama dengan rembulan yang sendu
lalu bintang tertawa padaku
angin perlahan menghanyutkanku
dalam buaian lamunan lalu
terbelenggu ikatan rasa sakit itu
semakin lama menjadi semakin erat
angin perlahan menghanyutkanku
semakin dalam dan dalam lagi
layangkan pada uluran yang tak sampai
apa yang di palingkan
nurani tlah berbisik pada telinga yang tuli
mencoba tuk membakar apa yang tak dapat merasakan
menenggelamkan apa yang tak dapat bernafas
memperlihatkan keindahan pada apa yang tak dapat melihat
itulah tiga empat apa yang telah di langkahkan
bahkan bukan hanya terbatas pada tiga empat
seribu, berjuta, bermilar, hingga tak terbatas
pada nyata, bukanlah nurani berbisik pada yang tuli
bukan membakar yang tak dapat merasakan
atau apa yang dipandang tak ada guna.
raga adalah dalangnya
yang membuat nurani berbuat jauh
sesungguhnya, apa yang nurani langkahkan
hanya untuk satu tujuan
agar dapat raga tidak sekalipun lagi
membakar dirinya sendiri demi mendengar nurani
itulah gejolak raga pada nurani
namun, semakin lama raga membakar dirinya
membutakan mata, menulikan telinga
semakin cepat waktu datang untuk menghancurkannya
Detik Kami
Kemdian terlingkar tali bagi ruang pribadi berdua. Tali yang dapat menghentikan masa bagi orang di dalamnya. Tali yang mengurung dan mengunci orang didalamnya. Tali yang takkan membiarkan siapapun masuk dalam ruang misterius itu. Sungguh tali yang ajaib.
Sungguh benar sulit tuk menungkapkan bagaimana rasa gundah yang kumiliki. Dengan berat, jadi pula kuataskan wajah tuk menatap sesuatu yang dia suka, sesuatu yang menjadi saksi detik demi detik hingga ujung jari kami terpisah. Walau ku merasa duniaku berkeping, tetap saja langit itu tak berubah seperti sebelumnya. Langit yang dia suka. Masih memliki rasa yang sama layaknya angin lalu.
Karna tentu saja dengan langit itu, aku merasa bersama kita ada dalam ruang yang satu. Dan dapat lebih mempercayai bahwa dirimu masih mengingatku. Ya, semoga saja engkau yang berada pada jauh sana masih menyadari bahwa ada seseorang sedang mengharap waktu cepat berlalu sampai datang saat dirimu kembali.
Detik Kami
Curahan Hatiku Padamu
Dia benar benar pangeranku. Melihatnya yang sedang menatap langit sepertinya membuatku iri pada langit yang dia liat dengan tatapan yang seperti itu. Dia melihat hamparan biru berhias bunga kapas putih itu dengan sepenuh hatinya. Dia hanya mencurahkan perhatiannya pada langit. Entah dia merasakan aku yang setia padanya atau tidak. Dia bahkan hampir tak berkedip karena tak mau berpisah dengan langit itu walau sekejap matanya.
Sosoknya yang tampan itu seperti sedang tertawa dan bernyanyi dengan langit untuk menghibur dirinya. Mungkin jika aku mati kesakitan di sampingnya saat ini juga, aku bahkan tak yakin dia akan sedikitpun mendengar jeritanku.
Yaah, tapi, dengan itu semua dapat membekukan sementara waktuku untuk bisa tetap menatap wajahnya tanpa dia menyadari. Karena, aku sungguh tak sanggup tuk menatap wajahnya jika matanya terpaku padaku. Maka ini adalah waktuku yang tepat jika aku ingin menatapnya lama lama. Memperkuat ingatanku tentang wajahnya yang tak setiap saat dapat ku resapi.
Aku benar benar jatuh cinta pada pria itu. Dengan tatapan mata yang dapat membawa sejuk dalam lautan api yang membara dalam jiwa, senyum yang hangat menjagaku dari dinginnya dunia. Dan hanya pria itu yang dapat memberiku ketenangan dalam setiap pelukannya. Kini, pria itu sedang menatap harta karunnya yang lain, yaitu hamparan biru yang luas. Inin sekali aku memeluknya dan mengutarakan apa yang aku fikir sekarang.
”Terimakasih tlah menjadikan aku harta karunmu yang berharga. Beruntung waktu tlah menyatukan rantai kehidupan kita sehingga detik ini kita tlah berjalan dalam tapakan yang sama, dalam langkah yang sama, dalam satu nafas yang sama. Kau bukan aku, tapi lorong kita tlah menyatu. Kebahagiaanku tlah bersatu denganmu.” Tapi, biarlah kau terlarut. Karena melihatmu bahagia adalah kebahagiaanku yang asli juga. Dan karena hanya ini satu satunya yang dapatku lakukan untukmu. Akanku jadikan pertemuan kita kali ini sebagai emas ingatanku tentangmu. Hanya wajahmu.
Lalu, kusandarkan kepalaku pada bahumu yang selalu menyambutku walau seluruh jiwa ragamu tercurah pada hamparan biru itu. Dan dengan lembut aku menutup kedua mataku.
Dapat aku rasakan dalam pandanganku yang gelap dia sedikit tersentak kaget saat aku bersandar padanya. Namun itu hanya sekejap. Dan dia memelukku dengan sebelah tangannya lalu berkata, ”Ini benar benar hari yang indah, sayang. Dapat menghabiskan waktu bersamamu menatap langit seperti ini. Aku sungguh merasa hidupku tlah lengkap. Lihatlah betapa indah langit yang luas itu.”
Perlahan, ku membuka mata tuk memandang cerminan laut yang dia suka. Memang tepat cerminan itu sungguh luar biasa. Sungguh pantas jika dia begitu mengagumi langit yang biru.
”Aku benar benar berharap waktu kehidupan berhenti sekarang juga. Karena jika tidak, jurang waktu terakhir kita untuk bisa tetap bersama tiba. Dan aku sama sekali tak bisa tinggal di tempat ini lagi. Ini adalah ujung waktuku menemani dirimu berada di sini. Kau tau itu, kan sayang?”
Aku sama sekali tak menjawab pertanyaannya itu. Hanya membeku karena tak sedikitpun aku dapat menerima ini. Sungguh berat bagiku.
Dan tak lama setelah kami bertemu dia harus kembali pada ruang lamanya untuk waktu yang lama. Kesendirian itu kembali padaku, tapi tak sekejam saat sebelum aku bertemu pria itu. Karena aku tlah membuka diriku pada semua yang amat setia padaku. Hubungan kami juga selalu berjalan lurus hingga detik ini.
Ketika pertama mendengar dia akan datang, tak secuilpun terlintas itu pula berarti waktu terakhir kami dapat bertemu begini. Dan kami tak akan pernah dapat terhubung dengan komunikasi apapun. Karena dia akan berpindah ke suatu tempat yang tak ada alat komunikasi dapat digunakan. Aku tak dapat menemaninya. Dia tau itu. Tempat aku berinjak ini melarangnya, kecuali aku menikah dengannya. Tapi itu tak mungkin. Dia hanya boleh menikah setelah tugasnya ini selesai. Dan tak ada satupun yang tau hingga kapan tugas ini akan selesai. Seumur hidupnya pun iu dapat terjadi.
”Aku tak pernah memaksamu setia padaku. Begitupun sekarang. Kau dapat mencintai dan menikahi orang lain setelah aku pergi pagi besok.” sungguh sakit terdengar dalam setiap kata yang terucap olehnya. Serta seperti tertahan caranya berkata. Begitupun denganku, merasa sakit mendengarnya bicara.
”Apa sebegitu putus asanya dirimu? Kenapa kau begitu yakin kita tak akan pernah bertemu lagi? Aku akan selalu, selamanya menunggumu. Seperti selama ini. Atau kau tak percaya padaku?” pertanyaanku seperti sebuah doa harapan yang tanpa ada jawaban cahaya indah.
”Tidakkah kau dapat merasa, jika aku tak mau membuatmu menungu satu hal yang kosong? Sesungguhnya aku lebih percaya dari kau mempercayai dirimu sendiri jika kau dapat setia menungguku. Hanya itu alasanku dapat melepasmu. Itupun buka aku dapat dengan mudah melakukannya.”
Aku memberanikan diriku tuk menenggelamkan mataku dalam matanya lalu meyakinkannya. ”Kita sama sama tau apa yang saling kita rasa dan itu hanya satu. Lalu apakah yang membuat kita saling ragu? Jalan ini hanya satu, sayang. Dan jika telah dituliskan nama kita sebagai jodoh, bagaimanapun usaha kita untuk saling memisahkan diri, itu hanyakan menyia waktu. Kau tau itu, bukan?” dengan lembut aku ungkapkan padanya.
”Sudahlah, jika memang begitu keputusan kita, kita harus saling berjanji untuk percaya dan setia.” pria itu berkata sambil merangkul leherku dan menarikku berdiri.
”Aku akan mengantarmu pulang dan lekaslah bersiap untuk melihat pesta kembang api sebentar lagi. Ini sudah hampir waktunya.” waktu ini dia merubah warna katanya menjadi lebih ceria dan semakin sejuk yang hangat. Aku menyambut dengan senyum terindah untukknya, agar menjadi kenangan yang takkan terlepas. Sepanjang jalan tak satupun kata yang saling tersampaikan. Hanya menikmati mentar yang mulai terusir oleh bulan. Putaran kecil waktu telah berlalu dan itulah batas penikmatan kami terhadap pengusiran mentari. Aku tlah sampai di rumahku.
”Aku akan sampai satu jam lagi di sini.” Ucapnya seolah tak mau terlepas dariku.
”Hati hati di jalan.” Detik kemudian dia telah menghilang dari jangkauan mataku. Dan aku meninggalkan tempat yang mulai dingin ini untuk membuat diriku berubah menjadi sosok yang tak akan terlupa bagi kenangan yang mngkin bisa menjadi yang terakhir kami.
Tepat satu jam, sesuai dengan janjinya pintu rumahku diketuk. Sosok itu muncul. Dengan pesona yang melebihi waktu jauh. Masih dalam lingkar apa yang dia suka pakai, namun sesuatu pesona itu ada yang lain. Maaku tertancap padanya. Tak dapat terlepas dan terhipnotisku olehnya. Waktu mulai berjalan lagi ketika tangannya menyentuh pundakku. Senyumnya mengalir hingga hatiku. Tak jauh rasanya dengan mentari yang terusir tadi.
”Kau lebih dari cantik dan luar biasa saat ini. Itu memberiku kenangan tentangmu yang tak terambil biarpun waktu yang mencurinya.”
”Waktu takkan menunggu kita untuk sampai tepat waktu jika kita tak segera melangkah ke sana.” senyumku membalas pujiannya yang terpanah padaku.
Lalu kami, layaknya sepasang kupu kupu bercanda dan terbang ke tempat di mana pesta api dari bumi ke angkasa itu dimulai. Gaun putih yang ku pakai tertiup angin. Sepertinya dia mendorongku untuk terbang. Benar benar seperti kupu kupu. Juga begitu dengan pria ini. Dia menarikku tuk melangkah lebih jauh de udara.
Dan kami terhenti tepat di tempat itu. Tepat juga saat bunga angkasa terkirim ke langit. Kilauan itu membuat semua menjadi semakin dramatis. Dia yang menyukai langit semakin tak berkedip sekalipun menatapnya. Matanya sangat berbinar cerminkan kegembiraan dihatinya. Apa yang terlanjur di katakan padaku tadipun sepertinya terlanjur menjadi debu. Tak berlaku lagi.
Namun, hal semacam ini tak lama terjadi. Dia faham seberapa lama lagi kami dapat bersama seperti ini. Karena itu dia melayangkanku ke sebuah bangku. Bangku yang tak istimewa. Hanya bunga hidup di sekitarnya membuat bangku batu dingin itu menjai lebih indah. Tak terungkap rasanya bila melihat waktu yang maju. Namun waktu ini benar benar memaksaku tuk melihat waktu kedepan. Rupanya benang gaib yang mengikat kami membuatnya merasa apa yang saat ini terlintas. Tak ada yang dapat dia raih untukku. Karena sedang jatuh tertindas kami bersama.
”Bisakah aku memohon hal sederhana padamu?” itu adalah satu usahaku tuk memecah dan membuat sebanyak mungkin lembaran ngatan tentang kami.
”Permohonan apakah itu?”
”Sudikah kau bicara lebih banyak untukku? Aku tak kan mempersalahkan tentang apakah itu. Aku hanya ingin lebih mengingat suaramu.”
Permohonanku terkabul. Dia membukannya dengan senyum damai miliknya. Aku hanya menikmati, menyerap dan mengukir suaranya yang begitu dalam serta seperti subuh, seperti bintang malam yang selalu menjagaku dari mimpi yang menelanku dalam kegelapan. Bersama itu, aku perlahan menutup mataku tuk lebih dapat mendengarnya dalam riuh suara pesta api. Aku benar benar menikmati setiap kata yang terlepas darinya karena tak tahu apakah dapat aku mendengar suaranya lagi.
”Aku akan amat merindukanmu.” katanya tertahan dengan lirih. Hanya membuatku semakin ingin melepaskan air yang hampir menitik dari mataku.
Mengangguklah yang dapat aku lakukan untuk menutup kembali apa yang telah tersua darinya karena tak sanggupku berkata biar sekatapun.
”Bagaimana denganku? Dapatkah aku memohon sesuatu padamu?” mendengar ia ingin memohon sesuatu, aku membuka mataku dengan enggan.
”Permohonan apakah itu?” perlahan dan sendu tanya kusampaikan.
”Aku juga ingin mendengar suaramu lebih lama.” tangan kanannya menyentuh kepalaku lembut.
Tanpa dapat satupun kataku sampaikan, tetesan air mata bergantian menerjang menembus kaca bening.
”Selamaku pergi, itu terserah padamu apa sudi kau menantiku hingga mungkin aku tak kan kembali. Tapi aku, akan selalu setia padamu.”
Seiring dengan tangis, ku menjawabnya, ”Jalan kita adalah satu. Kemanapun kau melangkah, aku juga kan melangkah di jalan yang sama, entah kau yang terlebih dahulu berada di depan, atau aku yang terlebih dulu berada di sana. Aku akan selalu percaya padamu. Percaya kaukan selalu setia padaku, percaya kaukan segera kembali, percaya bahwa aku adalah satu satunya yangkan menjadi bagian pertama dari keluarga kecilmu nanti.”
”Kau telah percaya bahwa aku kan datang padamu secepat mungkin. Lalu mengapa kau masih menangis? Kenangan yang aku harap bukanlah ingatan tentang air matamu. Jadi tolonglah. Sekarang berikan aku senyuman mentarimu dan bicaralah sesuatu. Aku akan mendengarkanmu hingga pagi.” pria itu menyerka air mataku seperti angin timur.
Tersenyumlah aku sepenuh jiwa lalu mengeluarkan semua kata yang terangkai dalam kalimat di nada yang terangkat serta memendam, membuang jauh semua sisa sisi gelap dari cerita ini yang ada dalam tubuh jua fikirku, agar kami bisa menikmati segala waktu yang tersisa dengan pelangi setelah hujan. Dan aku kan pastikan tak ada dari kami yang dapat melupakan betapa indahnya pelangi malam di pesta api bumi ini.
”Aku tak kan mengucapkan selamat tinggal atau apapun kepadamu. Karena aku yakin, kita akan segera bertemu lagi. Bahkan lebih cepat dari yang pernah terlintas di benakmu.” itu lah hal yang di lontarkannya di penghujung pagi dari malam itu.
TAMAT
Kalium Sianida
Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Sianida telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Sianida juga banyak digunakan pada saat perang dunia pertama. Efek dari sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit.1
Hidrogen sianida disebut juga formonitrile, sedang dalam bentuk cairan dikenal sebagai asam prussit dan asam hidrosianik. Hidrogen sianida adalah cairan tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru pucat pada suhu kamar. Bersifat volatile dan mudah terbakar. Hidrogen sianida dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan peledak.Hidrogen sianida sangat mudah bercampur dengan air sehingga sering digunakan. Bentuk lain ialah sodium sianida dan potassium sianida yang berbentuk serbuk dan berwarna putih.2,3
Sianida dalam dosis rendah dapat ditemukan di alam dan ada pada setiap produk yang biasa kita makan atau gunakan. Sianida dapat diproduksi oleh bakteri, jamur dan ganggan. Sianida juga ditemukan pada rokok, asap kendaraan bermotor, dan makanan seperti bayam, bambu, kacang, tepung tapioka dan singkong. Selain itu juga dapat ditemukan pada beberapa produk sintetik. Sianida banyak digunakan pada industri terutama dalam pembuatan garam seperti natrium, kalium atau kalsium sianida. Sianida yang digunakan oleh militer NATO (North American Treaty Organization) adalah yang jenis cair yaitu asam hidrosianik (HCN).1,3
Gejala yang ditimbulkan oleh zat kimia sianida ini bermacam-macam; mulai dari rasa nyeri pada kepala, mual muntah, sesak nafas, dada berdebar, selalu berkeringat sampai korban tidak sadar dan apabila tidak segera ditangani dengan baik akan mengakibatkan kematian. Penatalaksaan dari korban keracunan ini harus cepat, karena prognosis dari terapi yang diberikan juga sangat tergantung dari lamanya kontak dengan zat toksik tersebut